My Blog
June 11th, 2007 by diah-hereVisited My Blog at http://diah03.blogspot.com
Visited My Blog at http://diah03.blogspot.com
aku tidak mengerti
aku tidak mengerti
aku tidak mengerti
i’m not understand
i’m not understand
i’m not understand
Sebodoh itukah aku, hingga tak bisa memahami?
Atau aku yang terlalu tidak peduli
Atau ini karena sifatku yang dominan plegmatis?
Sungguh aku tidak mengerti
Terserah mau berbuat apa
Karena aku tidak lagi bisa mengerti
Aku sudah lelah untuk mencoba mengerti
Minggu, 24 Mei 2007…baru pertama kali sejak saya kuliah, UNDIP dibanjiri
banyak sekali mobil pribadi dan taksi. Kemacetan total terjadi selama sekitar 1 jam di daerah Kampus Tembalang dan mungkin juga di kampus Pleburan. Saya salah
satu yang terjebak dalam kemacetan itu, karena mengantar saudara yang juga
mengikuti UM. Dia bilang ada lima orang temannya yang pulang pergi dari Jakarta
dengan pesawat (hanya untuk mengikuti UM?batin saya), yang jelas pengguna
transportasi udara demi mengikuti UM tak hanya mereka saja.
Yup, ini tahun pertama UNDIP mengadakan Ujian Mandiri, dan “strategi
bisnis” ini tampaknya sukses pada penampilan perdana. Sekitar 10.000 orang
mengikuti UM UNDIP, dengan mengajukan SPMP (sumbangan pendidikan) hingga
berpuluh bahkan beratus juta.
Saat awal-awal kuliah di UNDIP, satu-satunya yang paling saya banggakan
adalah bahwa saya bisa kuliah dengan biaya yang murah. Ya..saat itu UNDIP
termasuk Perguruan Tinggi Negeri yang paling murah biaya pendidikannya. Mengapa
saya bisa banggadengan biaya kuliah murah, padahal kebanyakan orang bangga
dengan kuliah yang mahal ?? Karena jika biaya pendidikan murah, akan ada banyak
orang yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Dan UNDIP menerima
semua peminat dengan senang hati tanpa membedakan mahasiswa si kaya atau si
miskin.
Bandingkan dengan kondisi sekarang…untuk masuk saja, calon mahasiswa
harus menjamin bahwa dia akan membayar minimal 10 juta (padahal dulu ketika
masuk saya hanya membayar SPI 2 juta). Setiap calon mahasiswa harus
berlomba-lomba meninggikan jumlah uang sumbangannya. Bagaimana dengan
calon-calon mahasiswa yang tak mampu ? silakan gigit jari, jangankan untuk
membayar uang sejumlah itu, membeli formulir pendaftaran seharga 250 ribu saja
belum tentu bisa. Pilihan terakhir mereka hanyalah mengikuti SPMB yang ternyata
hanya dijatah 20 %.
Berarti nantinya UNDIP akan dipenuhi 80 % orang-orang berada dan 20 % oarng
yang kurang mampu (katanya mengikuti rasio jumlah rakyat miskin di Indonesia
yang 20 %???)
Selamat..selamat…Komersialisasi Pendidikan berkedok Ujian Mandiri telah
sukses pada penayangan perdana. Mari kita lihat hasilnya nanti. Benarkah uang
pendidikan yang disumbangkan para calon mahasiswa ini dapat meningkatkan kualitas
UNDIP dengan baik?Semoga saja kata-kata bijak yang berbunyi “sesuatu yang
dipaksakan hasilnya tidak akan baik” tidak benar-benar terjadi di UNDIP,
almamaterku yang dulu kubanggakan…
Di saat setiap orang menjauhimu dalam kesedihan
Di saat setiap orang meninggalkan dirimu dalam kesendirian
Terasa semakin berat bebanmu
Tersa semakin sesak dadamu
Menghadapi cobaan
Di waktu setiap desah nafasmu terasa berat karena kepedihan
Di saat setiap tetes mata yang kau tahan karena mencoba bertahan
Semua kan ada akhirnya
Semua kan membuatmu lapang
Menghadapi cobaan
Allah tak akan memberikan cobaan yang takkan kau sanggup untuk memikulnya
Allah tak akan merubah keadaanmu hingga kau tak berusaha merubahnya
Tegarkanlah dirimu karena janji Allah adalah pasti
-it’s works…-
Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan. Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan do’a-do’a. Ibunda…
Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi. Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Polesannya adalah warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci, Namun, goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur’an, zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa. Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara Allah) dari sebuah madrasah keluarga.
Duhai ibunda…
Maafkanlah kalau kesibukan menghalangi untaian do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.
Astaghfirullah…
Ampuni diri ini ya Allah.
Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do’a-do’a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.
Duhai ibunda…
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu.
Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku.
Indah… semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.
–teruntuk mama yang sedang dirawat di rumah sakit–
–maafkan ananda yang tidak bisa merawat dan menjagamu di sana–
–always love you forever–
Janganlah sekali-kali melanggar aksioma
alam, karena aksioma alam itulah yang akan menang. Pergunakan dan
kendalikan arusnya, jadikanlah yang sebagian untuk mendayagunakan
sebagian yang lain. Lalu tunggulah saat kemenangan tiba. Sungguh,
tidaklah ia jauh dari kalian
(Hasan Al Banna)
Manusia boleh berharap, tentang apa saja. Ini berlaku untuk siapa saja. Betapa pada seluruh pengharapan yang kita upayakan harus ada ruang yang kita sisakan untuk Allah. Bahwa untuk sebuah keselamatan, kesuksesan, manusia memang harus mengejar jalan ke sananya. Tetapi Allah saja yang menentukan hasilnya.
Hidup memang rangkaian usaha demi usaha. Sambungan ikhtiar demi ikhtiar. Tetapi pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tak lantas langsung berhubungan dengan keberhasilam dan kesuksesan. Ada simpul lain yang berbeda, yang menghubungkan dengan keberhasilan itu. Simpul itu adalah kehendak Allah. Simpul yang tidk diketahui oleh manusia. Simpul itu benar-benar wilayah yang sangat gelap bagi kita semua. Seperti ditegaskan Allah SWT dalam firmannya “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok” (QS Luqman : 34)
Bila pada simpul usaha, kita harus melakukan segala sesuatunya dengan baik, profesional, tertib, penuh semangat, maka pada wilayah yang gelap itu hanya ada satu cara untuk menyikapinya : berdoa, berharap dan bertawakal kepada Allah. Karenanya, ruang gelap ini sangat bisa dilihat pada ekspresi jujur setiap orang, bahwa pada setiap ikhtiar yang diusahakannya, mau tidak mau , ia harus menutup kalkulasi optimisnya dengan kata “semoga” atau “mudah-mudahan”. Persis seperti seorang ibu yang melepas anaknya ke ruang ujian, meski tahu anaknya telah belajar dengan rajin, ia harus tetap mengatakan “mudah-mudahan kamu berhasil nak”
Inilah simpul ‘mudah-mudahan’ itu. Ia bukan sekedar soal kebergantungan, tapi juga potongan penting dari mozaik prinsip utama aqidah Islam. Orang mu’min yang meyakini Tuhannya hanyalah Allah, juga harus meyakini bahwa Dia pula yang menentukan umur, rezeki, jodoh dan segala ketetapan lain atas dirinya, termasuk datangnya musibah atau kegagalan.
Tepat di malam 15 di bulan Rabiul Tsani…Bulan-Purnama-Bulat-Utuh besinar terang menghiasi malam, ditemani bintang berpijar, menambah pesona di malam hari.
Indah…Maha Besar Allah yang telah menciptakan segala keindahan
Bintang yang menyinarkan mimpi dan harapan
Bulan yang menyinarkan semangat yang kokoh…
Ingin rasanya berada di atas sana…ikut serta menyinari dan menghiasi malam
Indonesia menyatakan mantap mendirikan PLTN dengan
mempelajari pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya. PLTN ini
direncanakan akan beroperasi tahun 2016. Beberapa waktu lalu saya
sempat berdiskusi dengan seorang teman, dan cukup berhasil meyakinkan
saya, bahwa mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia harus mau dan
siap menggunakan energi nuklir untuk memenuhi kenutuhan energi yang
cukup besar. Saya juga diyakinkan kembali saat membaca artikel di
sebuah koran nasional, bahwa PLTN yang akan dioperasikan di Indonesia
akan menggunakan reaktor nuklir generasi III atau III plus yang lebih
ekonomis dengan sistem keselamatan secara total. Sebagai informasi,
PLTN di negara-negara maju saat ini menggunakan reaktor generasi II
yang terbukti aman dan selamat. Benarkah??
Beberapa hari lalu saya mengikuti sebuah Talk Show
di kampus tentang Global Warming, salah seorang speaker (perwakilan
dari sebuah NGO di Jepang) mengungkapkan pernyataan yang cukup
mengejutkan. She said “ Japan has a lot of nuclear power, but our
goverment are bullshit..! They didn’t do anything with nuclear
waste, they just keep it under the ground, Just Keep It…!! Do you
still want nuclear power??
I
just want to answer her question: actually we don’t want it… But
what can we do…??
(Ini hanya pernyataan dalam hati yang tak terungkap)
Jika Jepang saja yang sudah demikian maju dan
berhasil memasok kebutuhan listrik lebih dari 30 % dari energi
nuklir, ternyata belum memiliki pengolahan limbah radioaktif,
bagaimana dengan Indonesia…?? Saya hanya ingin Positive Thinking
saja, sambil berharap semoga sebelum PLTN dioperasikan, ada orang
cerdas yang sudah bisa merancang Instalasi Pengolahan Limbah
Radioaktif…
Global Warming…it’s really a global
WARNING!!! Isunya sudah berkembang cukup
lama, pemanasan global sedang dan akan
terus berlangsung. But we can do
something to stop it..Ada hal-hal kecil,
sederhana, mudah dan murah yang bisa
kita lakukan untuk ikut berperan
mengatasi Pemanasan Global. We can do
this…
*Mencari tahu dan menggali informasi
Kadang-kadang, bahkan seringkali info
yang kita dapat bisa menggugah hati dan
meningkatkan kesadaran kita, semakin
banyak tahu kita akan semakin peka,
believe it..!
*Hemat listrik….Hemat energi
Ini sangat membantu menurunkan jumlah
gas rumah kaca di atmosfer. Pernah lihat
program 17-22 dari PLN? Artinya pada jam
17.00-22.00 (Beban Waktu Puncak)
sebaiknya kita mematikan peralatan
listrik dan memakai seperlunya saja
*Bersepeda, Jalan kaki atau naik angkot
Di Indonesia orang-orang biasanya gengsi
melakukan ini, but do you know? Di
negara-negara maju seperti Jepang,
Amerika, Inggris, hal ini adalah suatu
trend…Mereka bangga jika melakukan
hal-hal tersebut.Di Manhattan, kota
terkaya di dunia, 90 % penduduknya tidak
mempunyai kendaraan pribadi, mereka
lebih suka jalan kaki, bersepeda atau
naik angkot!!
*Menanam pohon
Untuk menyerap 10% emisi CO2 yang ada di
atmosfer saat ini diperlukan upaya
penanaman setidaknya pada areal seluas
negara Turki. Seandainya saja setiap
jiwa di Papua menaman satu batang pohon
maka setidaknya ada sekitar 2.000 Ha
hutan baru yang akan mampu menyerap
sekitar 200.000 ton Carbon.
Try It…!!
*Mengurangi jumlah produksi sampah
Tumpukan sampah yang tidak terurus
(seperti yang terjadi hampir di seluruh
TPA di Indonesia) akan menghasilkan Gas
Methan (salah satu jenis gas rumah
kaca). Bagaimana mengurangi produksi
sampah? Menggunakan kertas bolak-balik,
membawa plastik/tas sendiri jika mau
berbelanja, mendaur ulang barang-barang
yang sudah tidak terpakai
*Menyebarkan informasi yang kita dapat
pada orang lain
Semakin banyak orang yang peduli dengan
hal ini akan semakin baik. Jadi setelah
membaca info ini, sampaikan lagi pada
orang lain, tentunya tidak lupa kita
berusaha komitmen untuk melakukan
hal-hal di atas.
“Think Globally but Act Locally”
In others words…
Syukurilah ni’mat Allah dengan
memelihara bumi ini, karena kita adalah
manusia yang diamanahkan sebagai
khalifah di muka bumi.