Archive for January, 2007

What Coming Up Next??

Wednesday, January 10th, 2007

Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi bukankah Allah menuruti prasangka hambaNya. Bahkan ketika saya mengalami saat-saat yang benar-benar tidak saya ketahui apa yang akan terjadi pada detik selanjutnya – misalnya saja saat presentasi di depan dosen yang killer, saya tidak tahu pertanyaan apa yang akan diajukan beliau untuk membantai saya – dan ternyata saat itu pula yang terjadi pada saya adalah tidak tahu apa yang akan dilakukan, yang padahal jika saya bisa santai sedikit saja – tentunya dengan persiapan yang matang –sekalipun tidak tahu apa yang akan terjadi, setidaknya saya punya beberapa alternatif tindakan untuk beberapa kemungkinan kejadian.

Menunggu diam sambil berpikiran “What Coming Up Next?”, adalah satu hal yang tidak saya sukai. Meski untuk sebagian orang – termasuk saya – merasa nyaman saat berada dalam situasi seperti itu. Karena itu berarti, kita hanya tinggal menunggu hasil, tanpa seringkali tidak tahu proses yang sedang berlangsung (untuk kebanyakan orang hal ini menyenangkan karena tak perlu repot). Lalu apa yang terjadi setelah tahu “the Next is…”, ya kalau hasilnya memuaskan bagi diri sendiri, jika tidak? hanya ada dua kemungkinan, bersabar atau kecewa.

So, jangan lagi berpikir “What coming up next?”, kita dikaruniai akal untuk berpikir dan merenungi sesuatu. Kita bisa belajar dari pengalaman yang sudah ada – bahkan untuk yang belum pernah ada kita bisa menganalisis probabilitasnya – kemudian tentukan beberapa alternatif tindakan yang akan kita lakukan untuk setiap kemungkinan. Intinya adalah rancanglah masa depan sesuai harapan dan keinginan kita – bila perlu bermimpilah setinggi-tingginya – jangan hanya berdiam diri menunggu apa yang akan terjadi.

Sebuah proses

Wednesday, January 10th, 2007

Suatu hari temanku keluar dari ruangan kuliah dengan wajah suntuk, lalu dia bergumam, buat apa sih belajar yang beginian, ga aplikatif banget..ga ada manfaatnya. Kemudian aku pun tahu, dia baru saja selesai kuliah perbaikan statistik. Entah memang dia begitu tidak suka pada mata kuliah statistik, atau itu hanya pelampiasannya saja karena setelah kuliah perbaikan pun tak ada rumus2 yang bisa dimengerti. Yang jelas dia memang bukan satu-satunya orang yang mengeluh tentang rumus2 yang entah datangnya darimana, belum lagi kuliah kalkulus, fisika dasar, kimia dasar, dan ilmu murni lainnya yang kami pelajari. Bahkan beberapa sempat komentar ”yang bikin rumus2 ini kurang kerjaan banget ya”

Aku hanya tersenyum mendengarnya . Tentu tak mudah membuat rumus2 seperti itu, yang jelas tak semudah mengomentarinya.

Buat kami, anak teknik, yang lebih dekat pada aplikasi, teknis, dan rekayasa, ilmu murni memang hanya dipandang sebelah mata. Tugas2 detail perencanaan, kadang membuat kami tak sempat memikirkan, darimana datangnya rumus2 yang dipakai.

Setelah dipikir-pikir, beruntung kami tak perlu pusing-pusing memikirkan cara membuat rumus-rumus itu, karena jika hanya berkutat pada rumus2, kapan perencanaannya jadi??Tapi aku pun berpikir lagi, kebiasaan menerima ”jadi” itulah yang membuat kami, seolah tak mengerti apa2. Saat mengerjakan tugas, seringkali kami bertanya, ”gimana cara mengerjakannya?”, lalu seorang  teman berkata dengan enteng, ”gampang tinggal masukin rumus aja”.

Ternyata  ga semudah itu,angka2 yang kami masukkan harusnya sesuai dengan kriteria desain yang sudah ada, lalu baru menentukan rencana perhitungannya, baru dihitung sesuai rumus yang ada, itupun kalo rumusnya Cuma ada satu, kalo rumusnya banyak?? analisis dulu rumus apa untuk apa. Dan ternyata ini pun ga semudah berkomentar ”masukkin aja angkanya ke rumus”, wah kalo semua pekerjaan semudah itu, takkan ada pengangguran di negeri ini. Jadi, pekerjaan teknis pun butuh perencanaan yang matang dan perhitungan yang cermat, barulah bisa aplikatif. Tak ada sesuatu yang langsung aplikatif, semua butuh proses dan pembelajaran.

Kepada Para Pemuda

Wednesday, January 10th, 2007

Kepada para pemuda

yang merindukan
lahirnya kejayaan…

Kepada umat yang
tengah kebingungan di persimpangan jalan…

Kepada
para pewaris peradaban yang kaya raya

yang
telah menggoreskan catatan membanggakan

di
lembar sejarah manusia…

Kepada
setiap muslim yang yakin akan masa depan dirinya

sebagai
pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan di kampung akhirat…

Sebuah
bekal hari ini yang sarat tuntutan

untuk
masa depan yang penuh cahaya…

Wahai
para pemuda…

wahai
mereka yang memiliki cita-cita luhur

untuk
membangun kehidupan…

Wahai
kalian yang rindu akan kemenangan agama Allah…

Disinilah
petunjuk itu, disinilah bimbingan…

Disinilah
hikmah itu, disinilah kebenaran…

Di sini
kalian dapati keharuman pengorbanan

dan
kenikmatan jihad…

Bersegeralah
bergabung dengan parade bisu…

Untuk
bekerja di bawah panji penghulu para nabi…

”Sehingga
tidak ada lagi fitnah di muka bumi dan agama seluruhnya milik Allah”

Ditulis oleh Imam Syahid Hasan Al Bana

Monday, January 1st, 2007

My second Idul Adha in Semarang…without my family…
Something lost…Tapi tak boleh mengurangi pemaknaan terhadap Idul Adha itu sendiri. Bahwa Allah memerintahkan umatNya - melalui Ibrahim dan Ismail yang sholeh - mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai untuk berjuang dijalanNya. Mudah2an kita bisa mengikuti jejak Ibrahim dan Ismail. Aamiin…

Dari kemaren, beberapa bingkus plastik berisi daging terus berdatangan ke kost. Semua penghuni kost mengerahkan kemampuannya berpraktek tanpa teori…Learning By doing maksudnya…alias coba masak tanpa resep…But, We did it..!! Hasilnya enak, semua makan dengan lahap :) (iyalah, siapa lagi yang menghargai buatan sendiri kalo bukan diri sendiri). Tapi memang subhanallah, Allah mengkaruniakan insting yang taham pada seorang wanita… :)

Jadi kepikiran, orang2 fakir yang dapet jatah daging. Mungkin mereka memang dapet berkilo2 daging, tapi mereka mungkin malah semakin dipusingkan dengan apa mereka akan mengolah daging tersebut, mikirin beli minyak tanah, minyak goreng, bumbu2, apalagi nasi…semua butuh uang kan??