Mata Kuliah KKN, 3 SKS. Awalnya aku menyebutnya Liburan Panjang, tapi kemudian aku mengganti sebutannya menjadi Petualangan Hidup.
35 hari..(dalam bahasa jawanya selapan), tinggal di Mojosari, Sebuah desa di kaki Gunung Sindhoro, Temanggung.
Jauh dari keramaian dan hingar-bingar kota. Belajar banyak dari kepolosan masyarakat desa. Saat awal tiba di sana, banyak warga yang bilang "beginilah hidup di desa mbak, tidak seperti di kota, jadi nanti jangan kaget". Saat itu aku hanya tersenyum…
Dan memang benar, tak pernah terbayangkan sebelumnya, kehidupan tentang mereka. Bukan, bukan tentang fasilitas dan sarana yang pas-pasan, tapi tentang kehidupan mereka yang seringkali terlalu "nrimo", pasrah pada apa yang mereka miliki sekarang, terlalu pasrah malah.
Suatu hari aku mengajar anak kelas 5 SD dan bertanya apa cita-cita mereka. "mau nyangkul disawah ‘ka", aku tersenyum mendengar jawaban seorang anak, "terserah jadi apa aja, yang penting bisa naek motor", jawaban yang ini membuatku agak miris, dan yang lebih miris lagi ternyata banyak yang menjawab terserah, mereka bisa menjadi apa saja nantinya.
Di lain hari, saat mengajar TPA, selesai mengaji seorang anak yang ternyata kelas 6 SD langsung menyalakan batang rokok, awalnya aku kaget, tapi ternyata aku tahu bahwa banyak anak laki-laki disana yang diperbolehkan merokok sejak kecil. Pasalnya, hampir semua warga menanam tembakau pada musimnya, jadi sajian tembakau/rokok sudah sangat biasa saat rapat, bahkan pengajian.
Tapi dibalik semua itu, keramahan dan kepolosan masyarakat mojosari benar-benar membuatku terharu. Tiap melewati rumah, penghuninya selalu menyapa "Pinarak mbak" artinya "Silakan mampir mbak". (^_^ kosakata bahasa jawaku semakin banyak). Terutama anak-anak yang keliatannya senang sekali melihat mahasiswa KKN, jika melihat dari jauh mereka teriak-teriak memanggil, menghampiri lalu menyalami satu persatu.
Belum lagi Bapak dan Ibu Lurah, tempatku tinggal, yang menganggap kami seperti anak sendiri (saat perpisahan mereka sampai nangis, seperti orang tua yang melepaskan anaknya pergi jauh). Terimakasih banyak Pak, Bu…
Takkan pernah terulang lagi mungkin, tapi kenangannya akan selalu terpatri, dan hikahnya akan selalu kujadikan pelajaran hidup