Archive for March, 2007

Perlombaan Saat Matahari Terbit

Saturday, March 31st, 2007

Perlombaan Saat Matahari Terbit

Setiap pagi di Afrika, seekor rusa
bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari singa
tercepat, jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa
bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari rusa
terlambat. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah
kita sang rusa atau singa. Saat matahari terbit sebaiknya kita mulai
berlari

Saturday, March 31st, 2007

Berhentilah…

Wahai jiwa yang
panjang angan-angan

Wahai jiwa yang
hanya mampu bernostalgia

Dengan sejarah
kemenangan

Wahai jiwa yang
hanya mampu merutuki kesalahan

Dari usaha orang
lain

Kini
saatnya memberi nama buat diri

Saturday, March 31st, 2007

Betapa
takaburnya diri ini yang selalu saja mengabaikan peringatan-Nya dan
gagal merendahkan hati di hadapanNya. Apakah hati dan pendengaran ini
telah terkunci mati hingga tak kudengar sama sekali gema perjuangan
yang menyuarakan hingga ke dalam hati manusia? Alangkah dzalimnya
diri ini yang selalu mengatasnamakan perasaan-perasaan duniawi
sebagai apologi. Kesibukan, kesakitan, trauma, luka,
ketidakberdayaan…layakkah semua itu kujadikan sebagai alasan untuk
menghilang sementara dari perjuangan ini? Padahal perjuangan tak
mengenal kata henti, tak mengenal ambisi-ambisi pribadi dan tak
dibangun atas dispensasi, tetapi di atas azimah

Begitu
mudahnya kubiarkan kepalaku tunduk dalam kepasrahan. Lihatlah tatapan
garang Ernesto “Che” Guevara yang menertawakan diriku yang
terpuruk dalam stagnasi : Jika hati anda bergetar melihat penindasan,
maka lawanlah. Sebab diam adalah bentuk pengkhianatan

Rabbi,
jika esok bukan milikku lagi, tolong jadikan hari terakhir ini
sebagai hari yang paling berarti. Izinkan aku menuntaskan misi
muliaku. Biarkan aku berlari secepat angin dan menjalani sisa
penghidupan ini untuk menemukan arti diri, untuk merasakan mimpi
–mimpi terakhir dan tertinggi

Kontemplasi sunyi mengiringi perjalanan menyusuri relung hati

Negeri kami…

Wednesday, March 14th, 2007

Disini negeri kami

tempat padi terhampar

samuderanya kaya raya

tanah kami sungguh permai

di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka…

Mendengar penggalan syair lagu di atas, miris rasanya… Negeri ini tak hanya kaya sumber daya alam. Jangan katakan bahwa tak ada SDM unggul yang mencukupi – walaupun memang tak sebanyak SDM di negara maju. Tapi bukankah sudah banyak orang pintar dan kaum intelektual, yang bahkan menempuh pendidikan hingga keluar? Jangankan katakan bahwa jumlah orang yang idealis dan bermoral sedikit – walaupun memang jumlahnya kian menyusut. Tapi bukankah begitu banyak pemuda dan mahasiswa yang turun ke jalan memperjuangkan hak rakyat?

Tapi tetap saja…hutan digunduli, manajemen transportasi tak pernah berubah, tata ruang semakin kacau, teknologi pemantauan dan peringatan dini cuaca tetap begitu saja, bahkan penyelenggaraan negara dan pemerintahan semakin memprihatinkan serta budaya korup semakin mengakar kemana-mana

Tapi tetap saja…program raskin, pembagian dana BOS, dana penanggulangan bencana justru diselewengkan. Pembangunan jalan tol, penataan BUMN, impor beras dijadikan ajang bagi-bagi uang di kalangan elite.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim :7)

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS An Nahl : 112)

Na’udzubillah…

Dan negeri ini bertambah terluka saat musibah dan bencana datang beruntun. Tanah longsor, gempa bumi, banjir, kecelakaan transportasi, wabah penyakit, busung lapar…Tak bisakah belajar dari duka yang ada?…

                                                    Untuk negeri yang sedang terluka

Feel…

Monday, March 12th, 2007

Tentang semangat dan kesungguhan…bahwa hidup ini tak berarti tanpa perjuangan dan pengorbanan…bahwa semuanya ditentukan oleh keikhlasan…bahwa kemenangan sesungguhnya hanya diperoleh jika hati ini jauh lebih lapang. Dan diri ini masih bisa lebih besar dari sekarang…

My Vacation

Thursday, March 1st, 2007

Mata Kuliah KKN, 3 SKS. Awalnya aku menyebutnya Liburan Panjang, tapi kemudian aku mengganti sebutannya menjadi Petualangan Hidup.

35 hari..(dalam bahasa jawanya selapan), tinggal di Mojosari, Sebuah desa di kaki Gunung Sindhoro, Temanggung.
Jauh dari keramaian dan hingar-bingar kota. Belajar banyak dari kepolosan masyarakat desa. Saat awal tiba di sana, banyak warga yang bilang "beginilah hidup di desa mbak, tidak seperti di kota, jadi nanti jangan kaget". Saat itu aku hanya tersenyum…

Dan memang benar, tak pernah terbayangkan sebelumnya, kehidupan tentang mereka. Bukan, bukan tentang fasilitas dan sarana yang pas-pasan,  tapi tentang kehidupan mereka yang seringkali terlalu "nrimo",  pasrah pada apa yang mereka miliki sekarang, terlalu pasrah malah.

Suatu hari aku mengajar anak kelas 5 SD dan bertanya apa cita-cita mereka. "mau nyangkul disawah ‘ka", aku tersenyum mendengar jawaban seorang anak, "terserah jadi apa aja, yang penting bisa naek motor", jawaban yang ini membuatku agak miris, dan yang lebih miris lagi ternyata banyak yang menjawab terserah, mereka bisa menjadi apa saja nantinya.

Di lain hari, saat mengajar TPA, selesai mengaji seorang anak yang ternyata kelas 6 SD langsung menyalakan batang rokok, awalnya aku kaget, tapi ternyata aku tahu bahwa banyak anak laki-laki disana yang diperbolehkan merokok sejak kecil. Pasalnya, hampir semua warga menanam tembakau pada musimnya, jadi sajian tembakau/rokok sudah sangat biasa saat rapat, bahkan pengajian.

Tapi dibalik semua itu, keramahan dan kepolosan masyarakat mojosari benar-benar membuatku terharu. Tiap melewati rumah, penghuninya selalu menyapa "Pinarak mbak" artinya "Silakan mampir mbak". (^_^ kosakata bahasa jawaku semakin banyak). Terutama anak-anak yang keliatannya senang sekali  melihat mahasiswa KKN, jika melihat dari jauh mereka teriak-teriak memanggil, menghampiri lalu menyalami satu persatu.

Belum lagi Bapak dan Ibu Lurah, tempatku tinggal, yang menganggap kami seperti anak sendiri (saat perpisahan mereka sampai nangis, seperti orang tua yang melepaskan anaknya pergi jauh). Terimakasih banyak Pak, Bu…

Takkan pernah terulang lagi mungkin, tapi kenangannya akan selalu terpatri, dan hikahnya akan selalu kujadikan pelajaran hidup