Archive for May, 2007

i’m not understand

Monday, May 28th, 2007

aku tidak mengerti
aku tidak mengerti
aku tidak mengerti
i’m not understand
i’m not understand
i’m not understand
Sebodoh itukah aku, hingga tak bisa memahami?
Atau aku yang terlalu tidak peduli
Atau ini karena sifatku yang dominan plegmatis?
Sungguh aku tidak mengerti
Terserah mau berbuat apa
Karena aku tidak lagi bisa mengerti
Aku sudah lelah untuk mencoba mengerti

KESUKSESAN KOMERSIALISASI PENDIDIKAN BERKEDOK UJIAN MANDIRI

Sunday, May 27th, 2007

Minggu, 24 Mei 2007…baru pertama kali sejak saya kuliah, UNDIP dibanjiri
banyak sekali mobil pribadi dan taksi. Kemacetan total terjadi selama sekitar 1 jam di daerah Kampus Tembalang dan mungkin juga di kampus Pleburan. Saya salah
satu yang terjebak dalam kemacetan itu, karena mengantar saudara yang juga
mengikuti UM. Dia bilang ada lima orang temannya yang pulang pergi dari Jakarta
dengan pesawat (hanya untuk mengikuti UM?batin saya), yang jelas pengguna
transportasi udara demi mengikuti UM tak hanya mereka saja.

Yup, ini tahun pertama UNDIP mengadakan Ujian Mandiri, dan “strategi
bisnis” ini tampaknya sukses pada penampilan perdana. Sekitar 10.000 orang
mengikuti UM UNDIP, dengan mengajukan SPMP (sumbangan pendidikan) hingga
berpuluh bahkan beratus juta.

Saat awal-awal kuliah di UNDIP, satu-satunya yang paling saya banggakan
adalah bahwa saya bisa kuliah dengan biaya yang murah. Ya..saat itu UNDIP
termasuk Perguruan Tinggi Negeri yang paling murah biaya pendidikannya. Mengapa
saya bisa banggadengan biaya kuliah murah, padahal kebanyakan orang bangga
dengan kuliah yang mahal ?? Karena jika biaya pendidikan murah, akan ada banyak
orang yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Dan UNDIP menerima
semua peminat dengan senang hati tanpa membedakan mahasiswa si kaya atau si
miskin.

Bandingkan dengan kondisi sekarang…untuk masuk saja, calon mahasiswa
harus menjamin bahwa dia akan membayar minimal 10 juta (padahal dulu ketika
masuk saya hanya membayar SPI 2 juta). Setiap calon mahasiswa harus
berlomba-lomba meninggikan jumlah uang sumbangannya. Bagaimana dengan
calon-calon mahasiswa yang tak mampu ? silakan gigit jari, jangankan untuk
membayar uang sejumlah itu, membeli formulir pendaftaran seharga 250 ribu saja
belum tentu bisa. Pilihan terakhir mereka hanyalah mengikuti SPMB yang ternyata
hanya dijatah 20 %.

Berarti nantinya UNDIP akan dipenuhi 80 % orang-orang berada dan 20 % oarng
yang kurang mampu (katanya mengikuti rasio jumlah rakyat miskin di Indonesia
yang 20 %???)

Selamat..selamat…Komersialisasi Pendidikan berkedok Ujian Mandiri telah
sukses pada penayangan perdana. Mari kita lihat hasilnya nanti. Benarkah uang
pendidikan yang disumbangkan para calon mahasiswa ini dapat meningkatkan kualitas
UNDIP dengan baik?Semoga saja kata-kata bijak yang berbunyi “sesuatu yang
dipaksakan hasilnya tidak akan baik” tidak benar-benar terjadi di UNDIP,
almamaterku yang dulu kubanggakan…

Terpuruk

Monday, May 21st, 2007

Di saat setiap orang menjauhimu dalam kesedihan

Di saat setiap orang meninggalkan dirimu dalam kesendirian

Terasa semakin berat bebanmu

Tersa semakin sesak dadamu

Menghadapi cobaan

Di waktu setiap desah nafasmu terasa berat karena kepedihan

Di saat setiap tetes mata yang kau tahan karena mencoba bertahan

Semua kan ada akhirnya

Semua kan membuatmu lapang

Menghadapi cobaan

Allah tak akan memberikan cobaan yang takkan kau sanggup untuk memikulnya

Allah tak akan merubah keadaanmu hingga kau tak berusaha merubahnya

Tegarkanlah dirimu karena janji Allah adalah pasti

-it’s works…-

Selaksa Rindu Untuk Ibunda

Saturday, May 19th, 2007

Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan. Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan do’a-do’a. Ibunda…

Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi. Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Polesannya adalah warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci, Namun, goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur’an, zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa. Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara Allah) dari sebuah madrasah keluarga.

Duhai ibunda…
Maafkanlah kalau kesibukan menghalangi untaian do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.
Astaghfirullah…
Ampuni diri ini ya Allah.

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do’a-do’a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.

Duhai ibunda…
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu.
Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku.
Indah… semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

–teruntuk mama yang sedang dirawat di rumah sakit–
–maafkan ananda yang tidak bisa merawat dan menjagamu di sana–
–always love you forever–

Wednesday, May 16th, 2007

Janganlah sekali-kali melanggar aksioma
alam, karena aksioma alam itulah yang akan menang. Pergunakan dan
kendalikan arusnya, jadikanlah yang sebagian untuk mendayagunakan
sebagian yang lain. Lalu tunggulah saat kemenangan tiba. Sungguh,
tidaklah ia jauh dari kalian

(Hasan Al Banna)

Simpul itu bernama mudah-mudahan

Tuesday, May 8th, 2007

Manusia boleh berharap, tentang apa saja. Ini berlaku untuk siapa saja. Betapa pada seluruh pengharapan yang kita upayakan harus ada ruang yang kita sisakan untuk Allah. Bahwa untuk sebuah keselamatan, kesuksesan, manusia memang harus mengejar jalan ke sananya. Tetapi Allah saja yang menentukan hasilnya.

Hidup memang rangkaian usaha demi usaha. Sambungan ikhtiar demi ikhtiar. Tetapi pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tak lantas langsung berhubungan dengan keberhasilam dan kesuksesan. Ada simpul lain yang berbeda, yang menghubungkan dengan keberhasilan itu. Simpul itu adalah kehendak Allah. Simpul yang tidk diketahui oleh manusia. Simpul itu benar-benar wilayah yang sangat gelap bagi kita semua. Seperti ditegaskan Allah SWT dalam firmannya “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok” (QS Luqman : 34)

Bila pada simpul usaha, kita harus melakukan segala sesuatunya dengan baik, profesional, tertib, penuh semangat, maka pada wilayah yang gelap itu hanya ada satu cara untuk menyikapinya : berdoa, berharap dan bertawakal kepada Allah. Karenanya, ruang gelap ini sangat bisa dilihat pada ekspresi jujur setiap orang, bahwa pada setiap ikhtiar yang diusahakannya, mau tidak mau , ia harus menutup kalkulasi optimisnya dengan kata “semoga” atau “mudah-mudahan”. Persis seperti seorang ibu yang melepas anaknya ke ruang ujian, meski tahu anaknya telah belajar dengan rajin, ia harus tetap mengatakan “mudah-mudahan kamu berhasil nak”

Inilah simpul ‘mudah-mudahan’ itu. Ia bukan sekedar soal kebergantungan, tapi juga potongan penting dari mozaik prinsip utama aqidah Islam. Orang mu’min yang meyakini Tuhannya hanyalah Allah, juga harus meyakini bahwa Dia pula yang menentukan umur, rezeki, jodoh dan segala ketetapan lain atas dirinya, termasuk datangnya musibah atau kegagalan.

Bulan Purnama dan Bintang

Wednesday, May 2nd, 2007

Tepat di malam 15 di bulan Rabiul Tsani…Bulan-Purnama-Bulat-Utuh besinar terang menghiasi malam, ditemani bintang berpijar, menambah pesona di malam hari.
Indah…Maha Besar Allah yang telah menciptakan segala keindahan
Bintang yang menyinarkan mimpi dan harapan
Bulan yang menyinarkan semangat yang kokoh…
Ingin rasanya berada di atas sana…ikut serta menyinari dan menghiasi malam

About Nuclear Again…

Tuesday, May 1st, 2007

Indonesia menyatakan mantap mendirikan PLTN dengan
mempelajari pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya. PLTN ini
direncanakan akan beroperasi tahun 2016. Beberapa waktu lalu saya
sempat berdiskusi dengan seorang teman, dan cukup berhasil meyakinkan
saya, bahwa mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia harus mau dan
siap menggunakan energi nuklir untuk memenuhi kenutuhan energi yang
cukup besar. Saya juga diyakinkan kembali saat membaca artikel di
sebuah koran nasional, bahwa PLTN yang akan dioperasikan di Indonesia
akan menggunakan reaktor nuklir generasi III atau III plus yang lebih
ekonomis dengan sistem keselamatan secara total. Sebagai informasi,
PLTN di negara-negara maju saat ini menggunakan reaktor generasi II
yang terbukti aman dan selamat. Benarkah??

Beberapa hari lalu saya mengikuti sebuah Talk Show
di kampus tentang Global Warming, salah seorang speaker (perwakilan
dari sebuah NGO di Jepang) mengungkapkan pernyataan yang cukup
mengejutkan. She said “ Japan has a lot of nuclear power, but our
goverment are bullshit..! They didn’t do anything with nuclear
waste, they just keep it under the ground, Just Keep It…!! Do you
still want nuclear power??

I
just want to answer her question: actually we don’t want it… But
what can we do…??

(Ini hanya pernyataan dalam hati yang tak terungkap)

Jika Jepang saja yang sudah demikian maju dan
berhasil memasok kebutuhan listrik lebih dari 30 % dari energi
nuklir, ternyata belum memiliki pengolahan limbah radioaktif,
bagaimana dengan Indonesia…?? Saya hanya ingin Positive Thinking
saja, sambil berharap semoga sebelum PLTN dioperasikan, ada orang
cerdas yang sudah bisa merancang Instalasi Pengolahan Limbah
Radioaktif…