KESUKSESAN KOMERSIALISASI PENDIDIKAN BERKEDOK UJIAN MANDIRI

Minggu, 24 Mei 2007…baru pertama kali sejak saya kuliah, UNDIP dibanjiri
banyak sekali mobil pribadi dan taksi. Kemacetan total terjadi selama sekitar 1 jam di daerah Kampus Tembalang dan mungkin juga di kampus Pleburan. Saya salah
satu yang terjebak dalam kemacetan itu, karena mengantar saudara yang juga
mengikuti UM. Dia bilang ada lima orang temannya yang pulang pergi dari Jakarta
dengan pesawat (hanya untuk mengikuti UM?batin saya), yang jelas pengguna
transportasi udara demi mengikuti UM tak hanya mereka saja.

Yup, ini tahun pertama UNDIP mengadakan Ujian Mandiri, dan “strategi
bisnis” ini tampaknya sukses pada penampilan perdana. Sekitar 10.000 orang
mengikuti UM UNDIP, dengan mengajukan SPMP (sumbangan pendidikan) hingga
berpuluh bahkan beratus juta.

Saat awal-awal kuliah di UNDIP, satu-satunya yang paling saya banggakan
adalah bahwa saya bisa kuliah dengan biaya yang murah. Ya..saat itu UNDIP
termasuk Perguruan Tinggi Negeri yang paling murah biaya pendidikannya. Mengapa
saya bisa banggadengan biaya kuliah murah, padahal kebanyakan orang bangga
dengan kuliah yang mahal ?? Karena jika biaya pendidikan murah, akan ada banyak
orang yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Dan UNDIP menerima
semua peminat dengan senang hati tanpa membedakan mahasiswa si kaya atau si
miskin.

Bandingkan dengan kondisi sekarang…untuk masuk saja, calon mahasiswa
harus menjamin bahwa dia akan membayar minimal 10 juta (padahal dulu ketika
masuk saya hanya membayar SPI 2 juta). Setiap calon mahasiswa harus
berlomba-lomba meninggikan jumlah uang sumbangannya. Bagaimana dengan
calon-calon mahasiswa yang tak mampu ? silakan gigit jari, jangankan untuk
membayar uang sejumlah itu, membeli formulir pendaftaran seharga 250 ribu saja
belum tentu bisa. Pilihan terakhir mereka hanyalah mengikuti SPMB yang ternyata
hanya dijatah 20 %.

Berarti nantinya UNDIP akan dipenuhi 80 % orang-orang berada dan 20 % oarng
yang kurang mampu (katanya mengikuti rasio jumlah rakyat miskin di Indonesia
yang 20 %???)

Selamat..selamat…Komersialisasi Pendidikan berkedok Ujian Mandiri telah
sukses pada penayangan perdana. Mari kita lihat hasilnya nanti. Benarkah uang
pendidikan yang disumbangkan para calon mahasiswa ini dapat meningkatkan kualitas
UNDIP dengan baik?Semoga saja kata-kata bijak yang berbunyi “sesuatu yang
dipaksakan hasilnya tidak akan baik” tidak benar-benar terjadi di UNDIP,
almamaterku yang dulu kubanggakan…

2 Responses to “KESUKSESAN KOMERSIALISASI PENDIDIKAN BERKEDOK UJIAN MANDIRI”

  1. niswatul Says:

    sekarang biaya kuliah semakin mahal. bagaimana Indonesia bisa maju kalau rakyatnya saja untuk memperoleh pendidikan yang layak semakin susah. prof Sus bagaimana janjinya mau memberi bantuan calon mahasiswa yang miskin tapi pintar?

  2. hakiki aja Says:

    setuju buangEett,
    mau di bawa kemana bangsa indonesia
    sedih,dendam,prihatin,pengen berontak semua jadi satu
    indonesiaku sayang indonesiaku malang..

Leave a Reply