Simpul itu bernama mudah-mudahan
Manusia boleh berharap, tentang apa saja. Ini berlaku untuk siapa saja. Betapa pada seluruh pengharapan yang kita upayakan harus ada ruang yang kita sisakan untuk Allah. Bahwa untuk sebuah keselamatan, kesuksesan, manusia memang harus mengejar jalan ke sananya. Tetapi Allah saja yang menentukan hasilnya.
Hidup memang rangkaian usaha demi usaha. Sambungan ikhtiar demi ikhtiar. Tetapi pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tak lantas langsung berhubungan dengan keberhasilam dan kesuksesan. Ada simpul lain yang berbeda, yang menghubungkan dengan keberhasilan itu. Simpul itu adalah kehendak Allah. Simpul yang tidk diketahui oleh manusia. Simpul itu benar-benar wilayah yang sangat gelap bagi kita semua. Seperti ditegaskan Allah SWT dalam firmannya “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok” (QS Luqman : 34)
Bila pada simpul usaha, kita harus melakukan segala sesuatunya dengan baik, profesional, tertib, penuh semangat, maka pada wilayah yang gelap itu hanya ada satu cara untuk menyikapinya : berdoa, berharap dan bertawakal kepada Allah. Karenanya, ruang gelap ini sangat bisa dilihat pada ekspresi jujur setiap orang, bahwa pada setiap ikhtiar yang diusahakannya, mau tidak mau , ia harus menutup kalkulasi optimisnya dengan kata “semoga” atau “mudah-mudahan”. Persis seperti seorang ibu yang melepas anaknya ke ruang ujian, meski tahu anaknya telah belajar dengan rajin, ia harus tetap mengatakan “mudah-mudahan kamu berhasil nak”
Inilah simpul ‘mudah-mudahan’ itu. Ia bukan sekedar soal kebergantungan, tapi juga potongan penting dari mozaik prinsip utama aqidah Islam. Orang mu’min yang meyakini Tuhannya hanyalah Allah, juga harus meyakini bahwa Dia pula yang menentukan umur, rezeki, jodoh dan segala ketetapan lain atas dirinya, termasuk datangnya musibah atau kegagalan.
January 16th, 2008 at 7:14 pm
ok